Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Juni 2017

Fakta Sebenarnya Belanda Tidak Menjajah Indonesia Selama 350 Tahun, Lalu Berapa Lama?

Ucapan Bung Karno “Indonesia dijajah selama 350 tahun” menurut saya hanya dimaksudkan untuk membangkitkan semangat patriotisme di masa perang kemerdekaan. Ada lagi ucapan “Lebih menderita dijajah Jepang selama 3,5 tahun dari pada dijajah Belanda 3,5 abad”, rangkaiannya kata berima 3,5 ini mudah diingat dan kemudian menjadi pembenaran.
Dijajah 350 tahun, kalau dihitung mundur dari tahun 1945, artinya kita dijajah Belanda mulai 1595. Benarkah Indonesia mulai dijajah Belanda pada tahun itu?
Yang terjadi tahun 1595 sebetulnya bukan penjajahan, melainkan Cornelis de Houtman mendarat di Banten untuk berdagang. Cornelis de Houtman adalah kapten kapal berbendera Belanda pertama yang tercatat mendarat di Indonesia. Dia tidak membawa tentara. Kalau penjajahan atau kolonisasi dimaksudkan sebagai penguasaan (politik dan militer) suatu teritori oleh orang-orang dari luar wilayah tersebut, maka tentu saja rombongan de Houtman tidak melakukannya.
Sekalipun de Houtman melakukan penjajahan, bukan semata-mata berdagang, di tahun 1595 tentu saja yang dijajah bukan Indonesia. Indonesia, bahkan nama itu, belum pernah ditulis orang pada tahun 1595.
Sebutan "Indonesia" sendiri baru dibuat tahun 255 tahun sesudah de Houtman menginjakkan kakinya di Indonesia. Indonesia pertamakali didefinisikan pada 1850 oleh seorang etnolog Inggris bernama James Richardson Logan dan kemudian nama itu dipopulerkan oleh Adolf Bastian, lebih dari 30 tahun kemudian.

VOC mulai menjajah sekitar tahun 1610

Verenigde Oost-Indische Compagnie (VoC) boleh dibilang mulai menjajah beberapa wilayah di Nusantara tahun 1610. VoC memaksakan monopoli perdagangan, membangun benteng, dan menunjuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Tetapi, pernyataan Belanda menjajah Indonesia sejak 1610 juga salah di dua tempat. Bukan hanya karena Indonesia belum ada, juga karena VoC hanyalah sebuah kongsi dagang, atau, dalam dialek lokal disebut kumpeni. VoC bukanlah Negeri Belanda.
Wilayah di Nusantara baru resmi menjadi koloni Negeri Belanda setelah VoC bangkrut karena korupsi. Bisa dihitung sejak tahun 1796 ketika Pieter Gerardus van Overstraten menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda mewakili Kerajaan Belanda--bukan perusahaan swasta.
Itupun, Belanda tidak pernah menjajah dan menguasai wilayah Indonesia--yang kita kenal sekarang--sepenuhnya. Koloni yang disebut Hindia Belanda tidaklah permanen dalam jangka panjang dan penguasaanya tidak sepenuh Republik Indonesia menguasai teritorinya saat ini. Bengkulu (d/h Bencoolen), misalnya, dulu dikuasai Inggris, sementara Malaka (d/h Malacca) dikuasai Belanda. Lalu mereka berdua tukar guling. Pernah juga Hindia Belanda berada di bawah kekuasaan Perancis di bawah Gubernur Jenderal Daendels, karena negeri induknya, Belanda, diduduki Perancis. Tak lama sesudahnya, selama lima tahun, Hindia Belanda sempat diambil oper Inggris di bawah Sir Thomas Stamford Raffles.
Lain lagi dengan Kerajaan Mataram, kemudian pecah jadi Keraton Surakarta dan Yogyakarta, yang kemudian menjadi Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta setelah kemerdekaan. Kerajaan ini masih punya raja sendiri, tidak tunduk dan bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal dan Ratu/Raja Belanda, tetapi punya kontrak politik/ekonomi dengan Gubernur Jenderal. Sebagian wilayah kerajaan ini tidak pernah dikuasai sepenuhnya oleh Belanda sampai Indonesia merdeka.

Nah, jadi kapan berapa tahun sebenarnya Belanda menjajah Indonesia?

Indonesia, bukan sebagai wilayah geografis semata, sebagai entitas politik dan sebagai wilayah hukum, praktis baru lahir tanggal 18 Agustus 1945 dengan disahkannya UUD 1945. Oleh karenanya, sebetulnya, kalau kita mau teliti belajar sejarah, Belanda hanya menjajah Indonesia dari tanggal tersebut sampai 27 Desember 1949, ketika setelah melalui perjuangan diplomasi yang berat, Belanda akhirnya menyerahkan kedaulatan.
Kerajaan Belanda hanya menjajah Republik Indonesia selama 4 tahun lebih sedikit. Secara parsial, Papua (d/h Irian Barat) masih dijajah sampai bendera Belanda diturunkan tahun 1962.
Hal lain yang perlu diluruskan adalah, tidak seluruh wilayah Nusantara mengalami pendudukan Belanda sampai lebih dari 300 tahun. Beberapa kerajaan baru berhasil ditaklukkan Belanda di tahun 1900-an, seperti Kerajaan Batak, Kesultanan Aceh dan beberapa kerajaan di Bali. Yang pertama diduduki oleh Belanda adalah kota Jayakarta, pada 30 Mei 1619, yang oleh para penguasa baru namanya diganti menjadi Batavia. Kemudian beberapa pulau di Maluku, a.l. Banda, diserang dan diduduki oleh Belanda. Para pemimpin Banda dibunuh, dan seluruh rakyatnya yang hidup dibawa ke Batavia untuk dijual sebagai budak.
Persoalan berapa tahun bangsa apa menjajah bangsa Indonesia sebetulnya tidak seberapa penting dibandingkan dengan persoalan kemanusiaan, pemerasan, perbudakan, penindasan, diskriminasi, rasisme, feodalisme, pengekangan kebebasan berpendapat/pers, dan pelanggaran HAM lainnya yang terjadi selama masa-masa kolonisasi dan monopoli perdagangan. Ini memang terjadi selama ratusan tahun.
Yang terpenting bagi kita adalah untuk cermat melihat apakah masih ada rasisme, penindasan, perbudakan, penghisapan, dan pemberangusan kebebasan berekspresi yang terjadi hari ini di negeri bernama Indonesia yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda. Apakah masih ada kecurangan, monopoli perdagangan, dan persaingan tidak sehat. Apakah kekerasan dan pendekatan militer masih digunakan untuk memenangkan kepentingan ekonomi segelintir orang. Apakah korupsi masih merajalela di kalangan elit seperti yang terjadi di tubuh VoC ratusan tahun yang lalu.
Hari ini tidak lagi relevan melihat penjajah sebagai bangsa asing yang datang dari jauh karena penguasa bisa menjajah bangsa--rakyat--nya sendiri di tanah mereka sendiri. Dan sebuah bangsa bisa mengirimkan tetangga atau saudaranya sendiri ke negeri yang jauh untuk kemudian dieksploitasi bahkan diperbudak. Dunia sudah menjadi satu kampung besar sehingga dalam hal kemanusiaan, asing atau lokal tidak lagi penting. Semuanya lokal. Planet bumi. Satu.
Lebih penting lagi, pertanyaannya bukan berapa ratus tahun kita dijajah. Tapi berapa ribu tahun ke depan kita akan terus membuka gerbang kemerdekaan lebih lebar.
Sumber : https://keepo.me/lays/fakta-sebenarnya-belanda-tidak-menjajah-indonesia-selama-350-tahun-lalu-berapa-lama

Sabtu, 20 Mei 2017

Mengharukan!!! Ibu Ini Sangat Ingin Melihat Ketiga Anaknya Tumbuh Dewasa. Namun, Yang Terjadi Malah ...


"Ketiga anakku tahun ini akan berusia 4 tahun. Siapakah yang bisa menggambarkan seperti apakah mereka ketika mereka berusia 18 tahun? Istriku ingin sekali melihat rupa mereka ketika mereka bertumbuh besar. Tetapi aku takut dia tidak bisa menunggu selama itu…"

Pada tanggal 8 Agustus 2015, ada seorang user Weibo yang menge-post sebuah permintaan untuk menggambarkan ketiga anaknya di masa depan. Post-nya ini menarik banyak perhatian para netizen.
Xu Xuan adalah seorang pelatih gym yang menge-post permintaan tersebut. Sang istri yang bernama Yang Li ini juga ternyata adalah seorang pelatih gym. Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada istrinya? Mengapa dia tidak bisa menunggu sampai anaknya tumbuh dewasa?

Yang Li berkata, "Jika kehidupan pendek yang aku miliki adalah kehidupan yang bahagia, maka kebahagiaan itu dimulai dari 6 Desember 2010."

Dua orang yang mengikatkan cinta mereka dalam sebuah pernikahan pun akhirnya memperoleh 3 orang anak yang sangat lucu. Walaupun mereka sangat sibuk mengurus segala kebutuhan anaknya, tetapi disitulah letak kebahagiaan mereka yang sesungguhnya.

Tetapi tidak lama kemudian, Yang Li mulai merasa tangan kanannya tidak bertenaga. Awalnya dia berpikir mungkin itu karena dia terlalu kecapekan, dan pihak rumah sakit pun juga menambahkan bahwa mungkin saja ada tekanan yang terlalu besar pada saluran serviks-nya ketika dia hamil, sehingga dia tidak perlu khawatir. Xu Xuan pun akhirnya memijat tangan kanan Yang Li setiap hari, tetapi tidak pernah bisa pulih, malah sekarang tangan kirinya mulai bergemetaran. Bahkan untuk mengikat rambut saja, dia sudah tidak bisa.
"Mari kita pergi untuk foto berkeluarga! Setelah foto, kita harus pergi ke Beijing untuk ke dokter!" kata Yang Li kepada suaminya sambil meneteskan air mata.
Pada Agustus 2012, setelah diperiksa di Rumah Sakit Angkatan Laut Beijing, sang dokter pun memvonis Yang Li dengan satu penyakit yang jarang terdengar: Amyotrophic Lateral Sclerosis  Penyakit ini…

Dokter hanya bisa berkata, "Apa yang ingin kalian lakukan, lakukanlah sekarang."
Mereka pun mencoba mencari tahu tentang penyakit tersebut sepulangnya di rumah. Mereka masih tidak percaya bahwa ini adalah penyakit yang "tidak bisa disembuhkan" lagi.
"Sini, mama ingin memelukmu," Yang Li pun langsung memeluk anak-anaknya ketika ia mendengar seruan anak-anaknya dan hanya bisa menahan tangisnya sendiri.

Penyebaran penyakit dalam tubuhnya cepat sekali, tidak sampai 3 bulan, kedua tangan Yang Li sudah tidak bisa memegang apa-apa lagi. Berjalan saja dia perlu ada orang yang menuntunnya, lidahnya pun mulai lumpuh. Dalam 2 tahun ini pun, dia berusaha mencari rumah sakit apapun yang bisa menyembuhkannya.
Yang Li pun berkata kepada suaminya, "Jika pada suatu hari nanti ketika aku sudah pergi, kamu harus mencari ibu yang baik untuk anak-anak kita…"
Xu Xuan pun langsung memeluk istrinya dan berkata, "Tidak akan ada hari seperti itu, kalaupun ada, aku sendiri akan menjaga anak kita sebaik mungkin!"

Pada November 2014, Xu Xuan dan Yang Li pun kembali melakukan sesi pemotretan baju pengantin mereka di tepi pantai. Hari itu langit terlihat sangat biru dan laut pun terlihat begitu bersih. Kata-kata yang paling menyentuh hati bukan "Aku mencintaimu," tetapi "Aku akan menemanimu."

Pada akhir tahun 2014, cerita Yang Li ini semakin banyak diketahui oleh orang banyak dan mereka pun mulai menggalang dana untuk operasi Yang Li sebesar 15.000RMB. Pada bulan Maret 2015, Yang Li pun menjalankan operasi transplantasi sel induk. Untuk setiap tahunnya, dia harus melakukan operasi ini sebanyak 2 kali.

Ketika dia sedang dirawat inap, Xu Xuan tiba-tiba membawa beberapa foto rupa anak mereka yang telah dewasa digambar oleh salah satu murid teknik mesin di NCTU Xi An. Netizen yang prihatin sangat antusias untuk menggambarkan 3 anak mereka yang telah tumbuh dewasa dan memiliki rupa yang berbeda.

Satu-satunya mimpi Yang Li adalah melihat anak-anaknya bisa tumbuh dewasa.

Karena gambar-gambar dari netizen ini,




Yang Li pun semakin berjuang untuk bisa tetapi hidup dan bisa menggapai mimpinya tersebut. Mari kita sama-sama mendukung keluarga kecil ini agar mereka bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia bersama!

Sumber : cerpen.co.id